Alamat

Office : Jl Susukan Raya No. 15A Desa Susukan Bojonggede - Bogor Tlp : 021 87982805 BBM : 552C988E Contact Person Bayu Syahrezza : +628991551947

Jumat, 22 Januari 2016

Konser Tentang Rasa: Nikmati Musik Frau dengan Semua Indera

JAKARTA, KOMPAS.com -- Setelah diadakan di Bandung dan Yogyakarta pada 2015, Konser Tentang Rasa dari Frau asal Yogyakarta diselenggarakan dua kali di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu (20/1/2016) sore dan malam.

Frau terdiri dari pemain piano, pencipta lagu, dan penyanyi Leilani Hermiasih (25) atau Lani beserta Oskar, piano elektrik Roland RD700SX buatan 1990 miliknya.

Dengan konser tersebut, Frau memberi kepada para penonton pengalaman menikmati musiknya secara holistik atau menyeluruh--dengan beragam indera, bukan telinga dan mata saja, dan dengan hati nurani.

Konser itu dibuka dengan suguhan dari duo balada AriReda, yang terdiri dari Ari (vokal dan gitar akustik) dan Reda (vokal). Mereka membawakan sejumlah lagu musikalisasi puisi, termasuk hit mereka, "Hujan Bulan Juni" dari puisi karya Sapardi Djoko Damono.

Sesudah penampilan AriReda, dalam gelap Lani keluar dari pintu latar panggung berjalan dengan bantuan penerangan lampu teplok atau sentir yang ditentengnya.

Cahaya lampu sentir itu menuntunnya menuju Oskar, piano kesayangannya. Lalu, hadirlah lagu "Sembunyi".

Lagu tentang kegugupan tersebut dicipta oleh Lani, yang sama sekali tak gugup dalam memencet bilah-bilah nada pada Oskar sembari menyanyi.

Lani lalu membawakan dua lagu hasil penafsirannya terhadap puisi-puisi "Berdiri Aku" (karya  Amir Hamzah) dan "Berita Perjalanan (Sitor Situmorang).
Untuk memberi pengalaman menikmati musiknya secara holistik, Lani berkisah pula, juga dengan bumbu humor dan aksen Jawa dalam berucap, yang membuat para penonton tertawa.

"Selamat sore, kami Frau, saya Lani dan ini piano saya, namanya Oskar. Konser ini diberi nama Tentang Rasa dan yang memberi judul adalah R Hakim. Dia juga yang membuat poster konser ini. Menurutnya, lagu-lagu Frau itu bisa membangkitkan perasaan-perasaan tertentu dan imajinasi-imajinasi di kepala," jelas Lani tentang gagasan Konser Tentang Rasa.

Gagasan mengenai konser Frau itu, diakui oleh Lani, membuat ia ingin mengetahui perasaan para penonton ketika mendengarkan lagu-lagunya.

Lani lalu meminta para penonton untuk menuangkan perasaan itu dengan menuliskannya pada kertas "Kesan Tentang Rasa" dengan menggunakan sebatang pensil, yang dibagi-bagikan kepada para penonton oleh pihak penyelenggara konser tersebut, G Production.

"Saya tertarik untuk tahu apa yang muncul di kepala kalian ketika mendengar lagu-lagu saya. Bisa juga kalian menggambar di kertas itu. Kesan itu akan membantu saya dan juga menyentuh perasaan saya," ujar lulusan S1 dari Jurusan Antropologi, FIB Unversitas Gadjah Mada, dan S2 Etnomusikologi dari Queen's University, Belfast, Irlandia Utara, ini.

Kertas "Kesan Tentang Rasa" yang sudah diisi itu, ujar Lani lagi, boleh dikumpulkan ke pihak penyelenggara konser tersebut, boleh juga dibawa pulang oleh para penonton.

Selain berinteraksi dengan para penonton melalui cerita di balik lagu-lagunya dan kertas "Kesan Tentang Rasa", Lani juga mengajak mereka bernyanyi bersama dalam lagu "Tukang Jagal".

Lagu tersebut dicipta oleh Lani berdasarkan karya gambar dari Restu Ratnaningtyas.

Lirik yang harus dinyanyikan oleh para penonton tertulis pada kertas lain lagi yang juga dibagi-bagikan kepada para penonton. Sebelum bernyanyi bersama, ia mengajari dulu para penonton.
Lani percaya bahwa menikmati musik bukan lewat mata dan telinga saja, melainkan juga lewat indera-indera lainnya.

"Saya sendiri pernah mengalami pengalaman mengalami musik secara inderawi. Pernah saya naik motor pulang sambil mendengarkan musik orkestra berjudul 'Bring Me Home'," tuturnya sehari sebelum Konser Tentang Rasa.

"Tak hanya audio saja, saya bisa merasakan angin sepoi-sepoi, pas lewat warung pecel lele membaui aromanya, begitu pula ketika lewat tempat pembuangan sampah. Benar-benar merasakan semua itu ketika menikmati sebuah musik tertentu," tuturnya lagi.

"Bisa disebut pengalaman holistik atau menyeluruh. Ide itulah yang mendasari konsep Konser Tentang Rasa ini," terangnya.

Oleh karena itu, demi indera pengecap para penonton, Lani, yang juga menjadi pengarah artistik konser tersebut, meminta kepada pihak penyelenggara untuk membagikan minuman ringan dalam ruang pertunjukan.

Minuman dalam kemasan botol plastik kecil itu beraneka rasa--cokelat, jeruk, jambu, dan kopi.

Selain itu, demi indera penciuman, pada lagu-lagu tertentu ruang pertunjukan beraroma antara lain vanila dan mint.

"Makanya, saya menghadirkan bau, mengecap juga. Bagaimana sih rasanya kalau mendengarkan lagu-lagu Frau itu baik dari aroma maupun rasa yang dikecap. Aroma-aroma itu diasosiasikan dengan lagunya saja," tuturnya.

"Pas ngeracik tuh rasanya seperti ngerjain proyek sekolah gitu. Oh, ternyata bau ini, bau itu, bisa dibuat," kata Lani.
Dalam Konser Tentang Rasa, Frau menggulirkan 16 lagu yang terdiri dari lagu-lagu dalam album Starlit Caraousel (2010) dan Happy Coda (2013), lagu-lagu lain hasil penafsirannya terhadap puisi dan karya gambar, serta lagu-lagu baru untuk album mendatang.

Lagu-lagu dari dua album itu, sebut saja, "Mesin Penenun Hujan", "Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa", "Water", dan "Tarian Sari".

Lagu baru Frau, antara lain, "Vietnamese Coffee Drip" dan "Detik-detik Anu".

Frau juga melibatkan sejumlah penampil lain.

"I'm a Sir" (dari album Starlit Carousel) dan "Mr Wolf" (Happy Coda) disuguhkan dengan dukungan pemain trompet Erson Padapiran, sedangkan "Suspens" (Happy Coda) dan lagu baru berjudul "Layang-layang" disajikan dengan dukungan sejumlah pemain alat musik gesek.

Dalam "Detik-detik Anu" Lani berduet dengan vokalis Alexandria Deni.

Konser Tentang Rasa menunjukkan bagaimana musik bisa dinikmati dengan semua indera dan hati nurani.

Frau melalui konser tersebut telah mengingatkan para penonton untuk lebih merasakan momen-momen kecil dari sebuah karya musik.

Untuk memberi pengalaman menikmati musiknya secara holistik, Lani berkisah pula, juga dengan bumbu humor dan aksen Jawa dalam berucap, yang membuat para penonton tertawa.

"Selamat sore, kami Frau, saya Lani dan ini piano saya, namanya Oskar. Konser ini diberi nama Tentang Rasa dan yang memberi judul adalah R Hakim. Dia juga yang membuat poster konser ini. Menurutnya, lagu-lagu Frau itu bisa membangkitkan perasaan-perasaan tertentu dan imajinasi-imajinasi di kepala," jelas Lani tentang gagasan Konser Tentang Rasa.

Gagasan mengenai konser Frau itu, diakui oleh Lani, membuat ia ingin mengetahui perasaan para penonton ketika mendengarkan lagu-lagunya.

Lani lalu meminta para penonton untuk menuangkan perasaan itu dengan menuliskannya pada kertas "Kesan Tentang Rasa" dengan menggunakan sebatang pensil, yang dibagi-bagikan kepada para penonton oleh pihak penyelenggara konser tersebut, G Production.

"Saya tertarik untuk tahu apa yang muncul di kepala kalian ketika mendengar lagu-lagu saya. Bisa juga kalian menggambar di kertas itu. Kesan itu akan membantu saya dan juga menyentuh perasaan saya," ujar lulusan S1 dari Jurusan Antropologi, FIB Unversitas Gadjah Mada, dan S2 Etnomusikologi dari Queen's University, Belfast, Irlandia Utara, ini.

Kertas "Kesan Tentang Rasa" yang sudah diisi itu, ujar Lani lagi, boleh dikumpulkan ke pihak penyelenggara konser tersebut, boleh juga dibawa pulang oleh para penonton.

Selain berinteraksi dengan para penonton melalui cerita di balik lagu-lagunya dan kertas "Kesan Tentang Rasa", Lani juga mengajak mereka bernyanyi bersama dalam lagu "Tukang Jagal".

Lagu tersebut dicipta oleh Lani berdasarkan karya gambar dari Restu Ratnaningtyas.

Lirik yang harus dinyanyikan oleh para penonton tertulis pada kertas lain lagi yang juga dibagi-bagikan kepada para penonton. Sebelum bernyanyi bersama, ia mengajari dulu para penonton.
Lani percaya bahwa menikmati musik bukan lewat mata dan telinga saja, melainkan juga lewat indera-indera lainnya.

"Saya sendiri pernah mengalami pengalaman mengalami musik secara inderawi. Pernah saya naik motor pulang sambil mendengarkan musik orkestra berjudul 'Bring Me Home'," tuturnya sehari sebelum Konser Tentang Rasa.

"Tak hanya audio saja, saya bisa merasakan angin sepoi-sepoi, pas lewat warung pecel lele membaui aromanya, begitu pula ketika lewat tempat pembuangan sampah. Benar-benar merasakan semua itu ketika menikmati sebuah musik tertentu," tuturnya lagi.

"Bisa disebut pengalaman holistik atau menyeluruh. Ide itulah yang mendasari konsep Konser Tentang Rasa ini," terangnya.

Oleh karena itu, demi indera pengecap para penonton, Lani, yang juga menjadi pengarah artistik konser tersebut, meminta kepada pihak penyelenggara untuk membagikan minuman ringan dalam ruang pertunjukan.

Minuman dalam kemasan botol plastik kecil itu beraneka rasa--cokelat, jeruk, jambu, dan kopi.

Selain itu, demi indera penciuman, pada lagu-lagu tertentu ruang pertunjukan beraroma antara lain vanila dan mint.

"Makanya, saya menghadirkan bau, mengecap juga. Bagaimana sih rasanya kalau mendengarkan lagu-lagu Frau itu baik dari aroma maupun rasa yang dikecap. Aroma-aroma itu diasosiasikan dengan lagunya saja," tuturnya.

"Pas ngeracik tuh rasanya seperti ngerjain proyek sekolah gitu. Oh, ternyata bau ini, bau itu, bisa dibuat," kata Lani.

Dalam Konser Tentang Rasa, Frau menggulirkan 16 lagu yang terdiri dari lagu-lagu dalam album Starlit Caraousel (2010) dan Happy Coda (2013), lagu-lagu lain hasil penafsirannya terhadap puisi dan karya gambar, serta lagu-lagu baru untuk album mendatang.

Lagu-lagu dari dua album itu, sebut saja, "Mesin Penenun Hujan", "Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa", "Water", dan "Tarian Sari".

Lagu baru Frau, antara lain, "Vietnamese Coffee Drip" dan "Detik-detik Anu".

Frau juga melibatkan sejumlah penampil lain.

"I'm a Sir" (dari album Starlit Carousel) dan "Mr Wolf" (Happy Coda) disuguhkan dengan dukungan pemain trompet Erson Padapiran, sedangkan "Suspens" (Happy Coda) dan lagu baru berjudul "Layang-layang" disajikan dengan dukungan sejumlah pemain alat musik gesek.

Dalam "Detik-detik Anu" Lani berduet dengan vokalis Alexandria Deni.

Konser Tentang Rasa menunjukkan bagaimana musik bisa dinikmati dengan semua indera dan hati nurani.

Frau melalui konser tersebut telah mengingatkan para penonton untuk lebih merasakan momen-momen kecil dari sebuah karya musik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar