Alamat

Office : Jl Susukan Raya No. 15A Desa Susukan Bojonggede - Bogor Tlp : 021 87982805 BBM : 552C988E Contact Person Bayu Syahrezza : +628991551947

Kamis, 03 Desember 2015

Mencoba Memahami Kehendak 'Tuhan'

Mencoba Memahami Kehendak 'Tuhan'


Yusuf Arifin - detikSport

Jumat, 04/12/2015 14:05 WIB


Mencoba Memahami Kehendak TuhanClive Brunskill/Getty Images

Dalam buku 'Mourinho: Anatomy of A Winner' yang ditulis Patrick Barclay, Louis van Gaal berkomentar : Ia (Mourinho) lebih mempercayai pertahanan ketimbang penyerangan. Sementara filosofi saya –berdasar keyakinan sepakbola harus menghibur penggemarnya—adalah memainkan sepakbola menyerang. Filosofi Mourinho semata meraih kemenangan.

Posisi van Gaal sahih untuk memberi penilaian. Ia sangat mempercayai Mourinho sebagai asistennya ketika melatih Barcelona. Sebegitu percayanya, van Gaal akhirnya lebih banyak mendengarkan masukan Mourinho ketimbang asisten lain mengenai persoalan di lapangan.

Bahkan, dalam pengakuan van Gaal, ia membiarkan Mourinho memimpin Barcelona dalam pertandingan persahabatan. Dari mempersiapkan tim, strategi, hingga tentu saja memberi arahan saat turun minum.

Penilaian van Gaal tentang Mourinho juga sahih. Walau harus diakui, seperti halnya pendekatan pragmatis lain di dunia, segala sesuatunya telanjang untuk dilihat dan dicerna. Tidak rumit-rumit amat. Tanpa panduan seorang van Gaal pun dunia sepakbola juga paham akan penekanan gaya bertahan dan pendekatan pragmatis Mourinho di lapangan.

Yang rumit justru klaim van Gaal akan filosofinya: sepakbola sebagai hiburan dan karenanya harus menyerang. Kalau melihat Manchester United saat ini terkait filosofi van Gaal: Apanya yang menghibur? Apanya yang menyerang?

Para bekas pemain Man United, dengan dirigen Paul Scholes, tak sekali dua kali menyatakan ketidakpuasan dengan gaya permainan yang mereka anggap lamban dan menjemukan.

Sementara paduan suara di Old Trafford nyaring berseru: Serang! Serang! Frustasi dengan gaya penguasaan bola yang dominan tetapi miskin serangan, miskin peluang, dan tentu saja miskin gol.

Statistik tak bisa dibantah. Man United di bawah van Gaal sangat berbeda dengan saat dipegang oleh Sir Alex Ferguson.

Di musim terakhir Sir Alex Ferguson, di 14 pertandingan pertama, Man United melepas 229 tembakan dan sundulan mengarah ke gawang, dengan 84 menemui sasaran, dan 33 diantaranya menjadi gol. Dengan jumlah pertandingan yang persis sama, saat ini hanya terjadi 146 tembakan dan sundulan mengarah ke gawang, 53 menemui sasaran, dan 20 menjadi gol.

Praktis apa yang dilakukan oleh Sir Alex di 14 pertandingan musim terakhirnya sebenarnya adalah cetak biru selama hampir 40 tahun ia menjadi pelatih. Baik di St. Mirren, Aberdeen, dan terutama sekali di Man United. Menyerang apapun situasinya.

Ia percaya bahwa dinamika di lapangan akan ditentukan oleh mereka yang terus berupaya melakukan serangan dan mencoba menghujani gawang dengan tembakan. Pola permainan dan permutasi pemain (yang terus berubah—dinamis) didikte oleh kemampuan melakukan serangan, bukan pertahanan. Pertahanan hanya akan menyesuaikan diri.

Misal sederhana: kalau sebuah tim terus melepaskan tendangan ke arah gawang dari semua posisi ketika situasi memungkinkan, akan menciptakan kegugupan di lini pertahanan. Dan karenanya akan memaksa pertahanan untuk mencoba semua lobang dimana tembakan bisa dilakukan.

Sebuah gol tercipta bukan semata karena satu serangan dan tembakan ke arah gawang yang berhasil, tetapi karena serangan yang terus menerus. Dan efeknya bukan hanya untuk pertandingan itu tetapi juga akan terbawa ke pertandingan-pertandingan berikutnya.

Karenanya 'It’s Not What You Do, It’s The Way That You Do It', tulis majalah supporter United We Stand belum lama ini. Apalagi yang dibahas kalau bukan mencela cara anak asuh van Gaal bermain dibanding saat Sir Alex.

Mereka bukannya tidak ingin melihat pertahanan yang kokoh. Tetapi mereka lebih ingin melihat Man United membobol gawang lawan. Kalaulah dengan menyerang atau membobol gawang lawan, pertahanan menjadi agak rapuh, itu harga yang harus dibayar. Risiko ancaman kebobolan (kalah) justru membuat pertandingan menjadi menarik.

Ancaman kebobolan seharusnya justru menjadi dorongan untuk semakin gencar melakukan serangan. Bukan sebaliknya. Apalah arti sebuah permainan tanpa ancaman kekalahan.

Penonton datang untuk sebuah emotional rollercoaster ride (gelombang naik turun emosi). Dengan kata lain, sepakbola Sir Alex adalah sebuah sepakbola yang penuh risiko tetapi pantas ditempuh atas nama hiburan. Sebuah tradisi di Man United yang fondasinya diletakkan oleh Sir Matt Busby.

Kalau melihat karir van Gaal, terutama saat memegang Ajax, Barcelona, dan Bayern Muenchen, benarlah bahwa ia menampilkan permainan sepakbola yang menyerang dan menghibur. Ia tidak sekadar berkata-kata dan membual.

Tetapi ia juga pelatih yang terkenal super kaku dan keras kepala. Sangat percaya diri bahwa dirinya orang yang paling benar, sistem yang ia terapkan adalah yang paling tepat dan superior, dan semua orang harus menurut.



Dalam buku Louis van Gaal, The Biography, Maarten Meijer menulis bagaimana orang sering memplesetkan van Gaal menjadi van God (Tuhan) gara-gara semua itu. van Gaal tentu saja menolak dan mengatakan media membesar-besarkan. Walau ia tanpa sungkan mengatakan: 'I am the best'.

Biasanya pelatih akan membeli pemain berdasar kemampuan mereka bermain di posisi masing-masing. Tidak dengan van Gaal. Para pemain, seberapapun besar nama mereka, akan diminta untuk bermain –masih dengan posisi mereka—tetapi dengan definisi peran yang hanya bisa dirumuskan oleh van Gaal sesuai dengan sistem yang ada di benaknya.

Pelatih biasanya akan menilai lawan dan pemain yang ia punyai lalu mencoba menemukan sistem permainan yang tepat. Van Gaal melihat hal itu sebagai lemah prinsip. Van Gaal selalu teguh dengan 4-3-3 dengan sedikit sekali variasi di sana sini dan rumusan definisi perannya. Ia tidak akan menyesuaikan diri dengan lawan. Seberapa kuat atau seberapa lemah selalu sama. Kata reaksi tidak ada dalam kamusnya.

"Lawan yang perlu bereaksi dengan sistem saya. Bukan sebaliknya," katanya suatu ketika.

Karenanya jangan harap akan ada perubahan dalam sebuah pertandingan yang melibatkan tim asuhan van Gaal. Anak asuh van Gaal akan bermain sama apapun kondisi di lapangan.

Possesion football (penguasaan bola) bagi van Gaal adalah segalanya. Ia dasar sistem serangan, pertahanan, menentukan menarik tidaknya sepakbola, dan sebuah cara mengeliminasi risiko kebobolan.

"Kalau anda menerapkan penguasaan bola sebagai dasar permainan, anda tak perlu bertahan, karena hanya ada satu bola di lapangan," kata maestro bola Belanda Johan Cruyff.

Penguasaan bola diasosiasikan oleh banyak orang dengan sepakbola menyerang. Karena memang tanpa menguasai bola anda tidak akan bisa melakukan serangan. Tetapi itu hanyalah satu sisi saja dari penguasaan bola seperti disiratkan oleh Cruyff.

Orang sering lupa, penguasaan bola juga adalah bentuk pertahanan terkuat. Pertahanan bukan semata ketika anda tidak menguasai bola lalu mengorganisir diri untuk mengantisipasi serangan lawan. Karena anda menguasai bola, lawan tidak akan bisa melakukan serangan karenanya tidak bisa mencetak gol.



vVan Gaal akan menolak mentah-mentah kalau ia dikatakan mengekor Cruyff. Tetapi tak terbantahkan, ia kemungkinan orang yang paling memahami atau setidaknya seide dengan apa yang dikatakan Cruyff. Dan ide itulah yang dicoba bawa oleh van Gaal ke Man United dan Inggris.

(Publik) Sepakbola Inggris mungkin agak berbeda. Possesion football bukanlah segalanya. Mereka ingin melihat jala gawang bergetar secepatnya. Mereka ingin sepakbola yang direct (menghunjam). Mereka tidak terlalu suka dengan sepakbola yang terlalu mengeliminir risiko kebobolan (memutar-mutar bola lewat possession football—persis seperti yang dilakukan van Gaal di Man United).

Mungkin itu sebab Man United di bawah van Gaal bagi penggemar sepakbola Inggris sejauh ini terasa sungguh membosankan.





====

* Penulis pernah menjadi wartawan di sejumlah media dalam dan luar negeri. Sejak tahun 1997 tinggal di London dan sempat bekerja untuk BBC, Exclusive Analysis dan Manchester City. Penggemar sepakbola dan kriket ini sudah pulang ke tanah air dan menjadi Chief Editor CNN Indonesia. Akun twitter: @dalipin68

Tidak ada komentar:

Posting Komentar