Alamat

Office : Jl Susukan Raya No. 15A Desa Susukan Bojonggede - Bogor Tlp : 021 87982805 BBM : 552C988E Contact Person Bayu Syahrezza : +628991551947

Jumat, 05 Februari 2016

Menikah Tingkatkan Kesehatan Mental Pria

KOMPAS.com - Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Family Psychology menemukan, bahwa pernikahan mampu meningkatkan kesehatan mental pria. Menurut para peneliti di Ohio State University, sebagian besar pria mendapatkan dorongan untuk lebih sehat secara mental ketika mereka memiliki pasangan.

Peneliti menggunakan data yang dikumpulkan untuk studi National Longitudinal Survey of Youth 1997 dengan responden pria Amerika yang lahir antara tahun 1980 dan 1984.

Mereka menganalisa bagaimana hidup bersama dengan pasangan pasca pernikahan berdampak pada kesehatan emosional para pria.

Hasilnya, tekanan emosional pria berkurang jauh ketika mereka memutuskan untuk menikahi pasangannya, sementara bagi pria yang hanya hidup bersama dengan pasangan tanpa pernikahan, tidak mengalami penurunan tekanan emosional.

"Pria yang mempertahankan hubungan tanpa pernikahan, tanpa sadar terus-menerus menguji hubungan tersebut. Sehingga akan sangat mungkin menimbulkan prasangka negatif terhadap pasangan, agresi fisik yang lebih besar, hingga terjadinya penurunan komitmen. Sedang pria yang memutuskan untuk menikah tidak melihat hubungan tersebut sebagai sebuah tes, melainkan penuh kepercayaan. Sehingga lebih mampu menikmati manfaatnya dan berinvestasi lebih banyak dalam pernikahan,” papar penulis studi.

Namun sebelum Anda memutuskan untuk mengirimkan foto cincin pertunangan pada pasangan, temuan ini masih memiliki keterbatasan. Pasalnya peneliti tidak meneliti lebih dalam tentang kualitas hubungan pasca pernikahan.

Dengan kata lain, kesehatan mental pria dinilai akan membaik bila pria dan istrinya memiliki hubungan yang solid. Bila yang terjadi sebaliknya, bukan tidak mungkin pria akan mengalami tekanan emosional yang tinggi.

Penulis : Ayunda Pininta
Editor : Bestari Kumala Dewi
Sumber : Womens Health

Ini Alasan Mengapa Pria Juga Butuh Meditasi

KOMPAS.com - Masih beranggapan kalau yoga dan meditasi adalah dunia wanita, mungkin inilah saatnya untuk mengubah mindset bahwa pria juga membutuhkan meditasi.

Bila pada wanita meditasi lebih pada pencapaian ketenangan dan meredakan stres, bagi pria, efek meditasi lebih pada melatih pikiran.

Sehingga pikiran dan intelektual akan lebih segar dan tajam, baik dalam pekerjaan, kemampuan komunikasi, atau sekadar melakukan tugas-tugas sehari-hari. Berikut manfaat utama yang bisa pria rasakan dengan meditasi rutin:



Meditasi meningkatkan produktivitas

Kesalahpahaman umum para pria adalah menganggap bahwa ketika bermeditasi, Anda hanya duduk-duduk dan tak berpikir tentang apapun. Sehingga dianggap tak ada kaitan dengan produktivitas.

Kenyataannya, saat meditasi Anda tidak diminta mengosongkan pikiran, melainkan memberikan izin kepada pikiran Anda untuk fokus pada sebuah pengalaman. Sehingga ini memungkinkan Anda terhindar dari melalukan pekerjaan secara “brutal”.

Anda akan mulai “dibimbing” untuk memiliki jiwa yang fokus, penuh perencanaan, dan berpikir kritis untuk mengerjakan sesuatu secara efisien. Tentunya, ini bisa menjadi solusi bagi Anda para pria yang merasa perlu mengembalikan produktivitas pada tempatnya.



Meditasi menambah kemampuan atletis

Ingin menguasai gerakan atau alat olahraga tertentu? Keinginan ini bisa Anda capai dengan lebih cepat dengan bantuan meditasi.

Meditasi membantu Anda memperhatikan detail, mengembangkan kesadaran yang lebih tajam untuk merasakan sensasi dalam tubuh dan merasakan bagaimana Anda bergerak.

Kesadaran itulah yang menjadi kunci kunci untuk pencegahan cedera dan memungkinkan Anda untuk berolahraga lebih sering dalam intensitas yang lebih tinggi untuk pencapaian kemampuan atletis yang lebih baik.



Meditasi membantu Anda membentuk otot

Jika tujuan Anda adalah untuk membakar lemak dan mendapatkan otot yang lebih kekar, terobsesi pada diet dan timbangan bisa membuat Anda dekat dengan frustasi. Pasalnya, penurunan berat badan dan pembentukan otot adalah permainan mental.

Meditasi akan membuat Anda sadar apa yang Anda makan dan apa yang Anda lakukan. Meditasi akan mengubah sebuah “paksaan” untuk makan sehat atau berolahraga menjadi penuh kesadaran dan kasih.

Sehingga Anda akan menemukan titik di mana makan sehat dan olahraga adalah sebuah kebutuhan bukan keharusan. Hasil akhirnya, Anda akan menemukan berat dan bentuk tubuh ideal lebih mudah.



Penulis : Ayunda Pininta
Editor : Bestari Kumala Dewi
Sumber : USnews

3 Cara Bangkitkan Pikiran Positif

KOMPAS.com - Sebuah penelitian di Inggris yang baru-baru ini dilakukan oleh Weight Watchers menemukan, dari 2000 wanita yang diteliti, satu dari tujuh di antaranya ditemukan terlalu sering mengkritik diri mereka sendiri sepanjang hari. Sehingga, membuat wanita merasa down sekitar delapan kali per hari karena tak puas dengan dirinya.

Bahkan yang lebih mengkhawatirkan menurut peneliti, setengah dari pikiran-pikiran negatif muncul di kepala wanita sebelum jam 10 pagi. Entah mengomentari bentuk tubuh, wajah, atau membandingkan dirinya dengan wanita lain yang terlihat lebih cantik. Dan sebagian wanita melakukannya tanpa sadar karena sudah menjadi kebiasaan.

Padahal, pikiran-pikiran negatif tersebut tidak hanya merugikan harga diri, tetapi juga dapat memiliki dampak buruk pada kesehatan fisik.

“Pikiran negatif mungkin hanya tampak seperti masalah emosional, tetapi sebenarnya dapat memiliki konsekuensi fisik yang sangat nyata. Pikiran negatif dapat meningkatkan stres dan kecemasan yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon, menyebabkan kerusakan pada sistem kekebalan tubuh dan mempercepat proses penuaan,” ungkap peneliti psikologi Barbara Fredrickson dari University of North Carolina

Barbara menemukan hubungan yang mengejutkan, antara berpikir positif dan meningkatkan kemampuan untuk mencari dan menemukan nilai baik dalam hidup. Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan, bila Anda menyadari sedang mengkritik diri terlalu sering.



Praktik mindfulness

Ketika muncul pemikiran negatif di kepala Anda tentang bagaimana perasaan Anda saat bercermin di pagi hari, cobalah lebih terbuka dan mendalam pada diri sendiri.

Apakah pikiran itu benar? Apakah Anda terlalu keras pada diri sendiri? Lalu carilah hal-hal positif dalam diri dan biarkan pikiran tersebut menghapus pikiran negatif.



Meditasi singkat

Salah satu cara terbaik untuk membersihkan pikiran dan membawa beberapa ruang positif dalam hidup adalah melalui meditasi. Selama 10 menit di pagi hari atau malam hari, duduk di tempat yang nyaman dan fokus pada pernapasan Anda. Ini akan membuat pikiran lebih tenang dan membuat pikiran negatif pergi.



Menulis jurnal

Luangkan waktu setiap hari untuk menuliskan apa yang Anda pikirkan dan rasakan. Mulailah dengan menulis "Saya merasa ..." dan daftar dari segala sesuatu yang Anda rasakan. Bahkan jika Anda merasa tak ada ide untuk menulis, tulis tentang apa saja.

Setelah Anda selesai, lakukan kegiatan lain, dan bacalah ulang. Apakah itu terlalu negatif? Bila iya, Lakukan hal-hal yang bisa membuat pikiran Anda lebih positif, seperti mandi air hangat, mendengarkan musik yang menenangkan, atau apapun kegiatan kecil yang Anda suka.

Penulis : Ayunda Pininta
Editor : Bestari Kumala Dewi
Sumber : www.health.com

Beramal dan Bersyukur Efektif Redakan Depresi

KOMPAS.com - Hidup yang dipenuhi dengan kesibukan dan tuntutan, rentan membuat seseorang depresi, terlebih bila masalah yang dihadapi tak kunjung reda dan semakin menumpuk.

Sayangnya, menurut para peneliti dari Indiana University yang dipimpin oleh Prathik Kini, sebagian besar orang memutuskan untuk meredakan stres dengan cara yang akhirnya menimbulkan masalah baru.

Misalnya, dengan cara berbelanja yang akhirnya membuat keuangan sedikit berantakan, atau makan enak yang nantinya malah menimbulkan masalah berat badan. Padahal, ada cara lain yang bisa Anda lakukan di mana pun dan kapanpun.

Dalam studi tersebut, peneliti merekrut 43 orang yang merasa depresi dan meminta mereka melakukan sesi konseling sebagai pengobatan untuk kegelisahan atau depresi.

Dua puluh dua dari responden diminta untuk melakukan kegiatan “Pay It Forward”, yaitu menerima sejumlah uang, lalu menuliskan rasa syukur pada selembar kertas, lalu memberikan sebagian uang tersebut kepada orang lain yang membutuhkan.

Sedang peserta lain, tidak diharuskan melakukan hal yang sama, mereka diminta menggunakan uang tersebut untuk kesenangan lain.

Tiga bulan setelah konseling usai, peneliti melakukan scanner otak pada masing-masing peserta. Para peneliti menemukan, semakin semakin kuat perasaan syukur yang dirasakan dan semakin banyak uang yang diberikan untuk beramal, maka akan semakin tinggi aktivitas otak di daerah frontal, parietal, dan oksipital.

 Hal tersebut berhasil menciptakan efek syaraf yang menimbulkan rasa emosional yang unik bila dilakukan secara rutin, yaitu perasaan bahagia, merasa cukup, bahkan meningkatkan empati pada orang lain.

Dengan kata lain, semakin sering Anda bersyukur dan beramal, maka bagian dari otak seakan memiliki kemampuan baru, yaitu “otot syukur”, yang dapat diperkuat bila Anda sering bersyukur.

Menariknya, semakin kuat otot tersebut, akan banyak pula perasaan-perasaan bahagia yang muncul secara spontan di masa depan.

“Semua dimulai dengan rasa syukur. Semakin banyak bersyukur, semakin besar kemungkinan kita untuk bertindak pro-sosial terhadap orang lain, sehingga memberikan kita kesempatan untuk lebih banyak beramal. Beramal akan membuat sang penerima amal tersebut merasa bersyukur dan akhirnya perasaan positif tersebut menyebar. Ini baik untuk membentuk generasi-generasi yang berbudi baik di kemudian hari,” ungkap peneliti.

Jadi, sudahkan Anda bersyukur hari ini?

Editor : Bestari Kumala Dewi
Sumber : Scienceofus

Berani Mengikis Fobia

Nyaris pingsan melihat donat. Sakit perut ketika cuaca berubah mendung. Sepertinya konyol, namun fobia adalah persoalan serius. Butuh bantuan ahli untuk mengatasinya.

 Wajah Wijatmoko (42) memerah, tangannya gemetar, keringat dingin mulai mengucur ketika melihat ada kardus bertuliskan merek donat di atas meja rapat yang sedang dikerubungi rekan-rekan kerjanya. Ia langsung ngibrit meninggalkan ruang kantor.

Koko, demikian ia biasa dipanggil, sangat takut pada donat. Perasaan takut dan jijik langsung meluap setiap kali melihat kue dengan lubang di tengah itu. Siksaan ini sudah dirasakannya sejak remaja.

”Yang saya ingat, rasa takut dan jijik seperti itu muncul ketika saya kelas I SMP. Nenek saya setiap hari berjualan kue, dan suatu hari di dalam tampahnya ada donat. Buat saya, bentuk kue itu menjijikkan sekali, seperti tinja. Dan ketika saya melihat orang memakannya, saya ingin muntah. Kok kotoran dimakan...,” kenang Koko.

Koko mengakui, ia sebisa mungkin menyimpan persoalannya itu untuk dirinya saja, karena begitu teman-temannya tahu kelemahannya, ia kerap dipermainkan.

”Saya pernah ditakut-takuti teman dengan donat sampai kejar-kejaran. Saya marah sekali sampai dendam pada orang itu,” kata Koko.

Setelah menikah, persoalan itu membuatnya lumayan repot karena gerai donat semakin banyak di mal dan pertokoan. Bukan hanya itu, anaknya yang terkecil (7 tahun) pun sangat menyukai donat.

”Istri dan anak saya yang paling besar sudah mengerti kondisi saya. Begitu masuk mal, biasanya kita menghindari melintas di depan toko atau kafe yang menjual donat. Kalau anak saya kepingin donat, biasanya istri saya membeli donat yang bentuknya tidak berlubang. Donat itu di rumah disimpannya di tempat terpencil agar tidak terlihat dan tercium oleh saya. Baru tercium baunya saja saya sudah cemas,” kata Koko.

Sampai saat ini Koko belum mau meminta bantuan ahli untuk menghilangkan fobianya meskipun itu sudah berlangsung hampir tiga dekade. Ia mengaku merasa mampu untuk menyembuhkan sendiri.

”Ada juga sih perasaan takut diketawain, kok takut sama donat? Selain itu, saya juga berpikir, toh cuma donat yang tidak bisa saya makan, masih banyak makanan lain. Jadi saya menganggapnya belum mengganggu,” kata Koko.

Mendung

Michelle (39) selalu dicekam ketakutan tiap kali langit gelap karena mendung. Benaknya mendadak dibanjiri bayangan kejadian alam yang bisa terjadi di luar kendalinya. ”Mendung itu berpotensi hujan badai, bahkan rasanya juga seperti tanda-tanda kiamat,” ujar ibu dua anak yang tinggal di Solo ini.

Ia baru lega ketika akhirnya hujan turun dengan biasa, tanpa angin kencang dan petir. Mendung gelap amat berdampak pada aktivitas Michelle sehari-hari. Tiap kali langit mendung, ia berdebar-debar, kesulitan berkonsentrasi, juga kehilangan fokus ketika diajak berbincang oleh orang lain.

Perutnya juga selalu bereaksi buruk tiap kali langit gelap, ia mendadak buang-buang air dan sama sekali kehilangan selera makan.

”Aku jadi seperti enggak bisa berpikir, enggak produktif banget tiap kali tahu kalau langit di luar rumah atau kantor sedang mendung. Mungkin kalau aku jadi pegawai, musim hujan yang banyak mendung bisa bikin aku dipecat,” ujar Michelle.

Perempuan yang mengelola bisnis miliknya sendiri ini kerap memilih segera pulang apabila mendung mulai muncul di langit.

Semakin dewasa, ketakutan Michelle bukan berkurang, malah bertambah. Ia juga merasa tidak nyaman berada di ketinggian, misalnya saat bepergian dengan pesawat terbang. Ia pun cemas akan ada gempa apabila berada di dalam gedung tinggi dan tertutup. Ketakutannya berubah menjadi pengalaman traumatik ketika tahun 2006 terjadi gempa di Yogyakarta.

Beragam upaya untuk mengurangi ketakutan sudah ia coba. ”Mulai dari meditasi, yoga, reiki, hingga konsultasi ke psikolog, tetapi belum banyak berkurang. Kalau keadaan terpaksa, ya memang aku tetap keluar rumah, tetapi dengan perasaan kacau dan enggak konsentrasi,” ujarnya.

Proses di otak

Terapis yang juga hypnotherapist bersertifikasi, Anthony Dio Martin, menyebutkan, fobia terbentuk akibat proses stimulus-respons yang berinteraksi terus-menerus sehingga otak terkondisikan (belajar) bahwa sesuatu itu menakutkan.

Dio Martin merujuk pada teori kondisioning klasik Pavlov, dengan eksperimennya yang terkenal yang menggunakan anjing.

Menurut Dio Martin, proses stimulus-respons yang terjadi di otak itu awalnya memunculkan perasaan cemas yang tidak beralasan, yang karena terus dikondisikan kemudian menjadi takut berlebihan, trauma, dan akhirnya menjadi fobia.

”Untuk penyembuhannya perlu mengubah bagaimana otak kita menyimpan memori tentang hal yang menakutkan itu,” kata Dio Martin.

”Fobia bisa disebabkan oleh sesuatu yang terjelaskan, tapi bisa juga oleh sesuatu yang tidak spesifik. Saya pernah menangani kasus seseorang yang sangat takut sama buah, ternyata pada waktu kecil, dia dipaksa ayahnya untuk makan segala macam buah. Ini penyebabnya jelas. Tetapi, ada juga fobia yang penyebabnya tidak spesifik, seperti takut melihat paruh ayam, mata kucing, dan lainnya. Pokoknya takut,” kata Dio Martin yang mendalami terapi NLP (neuro-linguistic programming) untuk menangani kasus-kasus fobia.

Menurut Dio Martin, fobia bisa disembuhkan, namun penyembuhannya tidak bisa melalui konseling, tetapi harus melalui terapi, karena fobia berhubungan dengan proses di otak.

”Banyak yang menganggap fobia bisa disembuhkan sendiri. Ini sulit dilakukan karena yang bersangkutan tidak bisa menolong dirinya sendiri. Jadi harus dengan bantuan tenaga profesional,” kata Dio Martin.

Tak sedikit penderita fobia yang enggan diterapi karena ”malu” dan menganggap persoalan yang dihadapinya sepele. ”Padahal, fobia itu tidak ada yang konyol. Apalagi kalau sudah sampai mengganggu aktivitas dan berdampak pada kebahagiaan hidupnya. Itu butuh terapi. Jangan sampai potensi untuk khawatir tidak beralasan itu kemudian merembet kepada hal lain,” katanya. (MYR/DAY)
Editor : Lusia Kus Anna
Sumber : Harian Kompas

Memulihkan Anak dari Rasa Trauma

KOMPAS.com - Berbagai peristiwa dalam hidup kita, mulai dari bencana alam, kriminalitas, hingga meninggalnya orang terdekat, dapat menimbulkan rasa trauma. Tak terkecuali pada anak-anak.

"Anak-anak Indonesia memang sering menghadapi peristiwa traumatik. Bahkan, bangsa kita adalah bangsa yang trauma," kata Psikolog Forensik Nathanael EJ Sumampauw dalam diskusi bersama Forum Ngobrol Bareng Sahabat (Ngobras) di Jakarta (19/1/16).

Bukan hanya peristiwa langsung, paparan informasi bertubi-tubi mengenai suatu tragedi juga dapat menyebabkan terjadinya trauma sekunder.

"Trauma sekunder itu timbul walau seseorang tidak merasakan langsung atau tidak hadir dalam peristiwa itu tapi efeknya dirasakan," ujar psikolog yang biasa disapa Nael ini.

Ia menjelaskan, anak-anak dan orangtua hidup di tempat yang sama, sehingga apa yang terjadi di sekitar kita juga akan dirasakan oleh anak.

Trauma pada anak, menurut psikolog Sani Budianti Hermawan, M.Si, bisa terjadi ketika berita yang muncul menimbulkan ketakutan berlebih.

"Misalnya melihat gambar korban tanpa sensor. Ini bisa menghantui anak sehingga sulit tidur atau bahkan mengganggu konsentrasinya," kata Sani saat dihubungi Kompas.com (17/1/16).

Reaksi trauma, menurut Nael, adalah hal yang wajar. Yang tidak wajar adalah pengalamannya.

Tidak semua anak menunjukkan perilaku yang sama dalam menghadapi kejadian traumatik. Ada yang menunjukkan gejala penghindaran (avoidance), yakni menghindari segala sesuatu yang berkaitan dengan trauma yang ia alami. Misalnya, tidak mau melewati lokasi suatu kejadian.

Gejala kedua adalah mengingat-ingat atau mengulang kejadian yang sudah berlalu (reexperiencing). Lalu yang ketiga adalah ketergugahan fisik yang berlebihan (hyper arousal), misalnya takut mendengar suara keras, dan sebagainya.

"Yang harus dikenali orangtua adalah perubahan sikap yang signifikan dari anak. Tidak selalu anak menjadi pasif atau menarik diri. Ada juga anak trauma yang justru menjadi aktif atau agresif," ujar Nael.

Perubahan sikap yang mungkin terjadi misalnya anak yang tadinya tidak pernah mengompol sekarang jadi sering ngompol, atau anak terus "nempel" dengan orangtua, atau gangguan konsentrasi belajar.

Yang bisa membedakan perubahan itu hanya orangtua atau orang terdekat. Dengan mengenali perubahan itu orangtua bisa melakukan deteksi dini agar dampak trauma tidak terbawa sampai anak dewasa.

Atasi trauma

Bila anak menunjukkan tanda trauma, orangtua perlu menjelaskan pada anak mengenai kejadian traumatik yang dialaminya. Ajak anak berdialog untuk menggali sejauh mana pemahaman anak dan bagaimana perasaannya.

"Batasi paparan bermuatan kekerasan lebih lanjut melalui media massa. Risiko anak trauma juga lebih besar jika ia tinggal dengan orang dewasa yang memiliki reaksi berlebihan terhadap peristiwa itu," ujar Nael.

Meski anak perlu dijelaskan mengenai peristiwa tersebut, tapi orangtua juga sebaiknya menumbuhkan optimisme dan harapan pada anak. Misalnya untuk peristiwa kriminalitas atau terorisme, ceritakan aksi heroik polisi yang dengan cepat melumpuhkan terorisnya atau relawan yang menolong korban bencana alam.

Pada anak yang mengalami trauma, ekspresikan kasih sayang dari orangtua, misalnya dengan memberi pelukan, tersenyum, dan mengajaknya beraktivitas.

Bantu anak untuk melakukan rutinitasnya, misalnya kembali bersekolah, bermain bola, atau mengikuti les. "Rutinitas akan memberikan harapan pada anak akan hari esok," kata dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Sementara itu, tanda-tanda anak sudah terlepas dari trauma adalah anak sudah bisa bermain, bersekolah, bergaul, atau menikmati hari-harinya dengan baik.

"Itu adalah indikator anak sudah adaptif terhadap kejadian yang dialaminya. Berarti ia cukup tangguh (resilience) melampaui masa sulit," ujarnya.

Editor : Lusia Kus Anna

Pemanasan Sebelum Olahraga, Buang Waktu dan Tak Perlu?

KOMPAS.com - Selama bertahun-tahun kita diajarkan pentingnya melakukan pemanasan atau peregangan sebelum berolahraga. Namun, studi-studi teranyar menyebutkan bahwa pemanasan sebenarnya hanya membuang waktu.

Salah satu dari penelitian itu menyebutkan, peregangan justru menurunkan kekuatan otot sampai 30 persen. Salah satu penyebabnya adalah sistem saraf pusat melawan pergerakan tersebut.

"Ketegangan otot menjadi kurang responsif dan lebih lemah 30 menit setelah melakukan peregangan. Padahal itu bukan hal yang kita inginkan untuk memulai olahraga," kata Malachy McHugh, direktur penelitian di Nicholas Institute of Sport Medicine and Athletic Trauma di Lenox Hill Hospital, New York, Amerika Serikat.

Pemanasan sendiri dibagi menjadi dua, yakni statis dan dinamis. Pemanasan statis adalah jenis pemanasan yang dilakukan dalam posisi tidak bergerak, seperti peragangan otot. Sementara itu pemanasan dinamis dilakukan sambil bergerak, misalnya lari-lari di tempat.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemanasan statis sebelum melakukan olahraga tidak terlalu efektif.

Penting tidaknya pemanasan memang masih diperdebatkan. Misalnya saja, sebuah penelitian yang dilakukan tim dari Center for Disease Control justru menyimpulkan bahwa cedera lutut bisa dikurangi sampai separuh pada mereka yang melakukan pemanasan, baik statis atau dinamis.

Menurut penjelasan dr.Michael Triangto, Sp.KO, memang ada beberapa kondisi yang tidak memerlukan pemanasan terlebih dahulu.

"Kalau untuk meningkatkan kekuatan otot dan memperbesar massa otot, peregangan memang tidak selalu dibutuhkan," kata Michael saat dihubungi Kompas.com (3/2/16).

Meski demikian, menurutnya apa yang selama ini sudah diajarkan (pemanasan) tidak salah. Pada kondisi standar pemanasan tetap perlu.

"Untuk latihan kardio atau orang yang pernah cedera pada otot-otot tersebut pemanasan tetap perlu, bahkan harus dilakukan secara cukup," ujarnya.

Bagi mereka yang sudah pernah cidera, peregangan wajib dilakukan. Sementara itu kalau latihan bebannya hanya sekali-sekali, stretching bisa dilakukan saat latihan kardio.

Peregangan, menurut Michael, merupakan bagian penting dari kegiatan olahraga. "Tujuannya untuk menyiapkan diri melakukan gerakan yang akan kita lakukan. Pemanasan juga mencegah cidera dan meningkatkan performa atlet," paparnya.

Durasi pemanasan bisa disesuaikan dengan kegiatan yang akan dilakukan. "Untuk latihan yang sifatnya intens perlu 20-30 menit, tapi kalau hanya jogging saja 5 menit sudah cukup," imbuh dokter yang menangangi atlet di Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia ini.

Penulis : Lusia Kus Anna
Editor : Lusia Kus Anna